Selasa, 29 Oktober 2013

Something Words

Hei..
iya, kamu..
kenapa ? udah lupa ?
masih ingat kan ?
Baiklah, abaikan

Sudah berapa lama begini?
Tidak pernah ada nyanyian
Tidak pernah ada kehadiran

Seharusnya masih ingat sama perkataan waktu itu
jangan tanya padaku, semua itu masih tersimpan rapih dalam ingatanku
kamu gimana ?
Aku masih ragu
Maaf bukan bermaksud mengusikmu
tapi, yaa.. hmm
hanya aja aku masih belum bisa lupa dengan ingatan waktu itu
benar, saat kita pernah sesaat seperti menghentikan waktu
dan mengucapkan kalimat itu
Saat ku menuliskan bait ini, angin menghembuskan auranya
semilir ringan dan membawaku pada ingatan itu
Mungkin aku masih cukup penakut untuk menyampaikannya
sama seperti waktu dulu, waktu aku dan kamu pernah menjadi kita
Sembari meneguk secangkir kopi ini, cukup deras aliran darah menerbangkan jauh memoriku

Ga tau kenapa serasa ingin menanyakan lagi tentang perkataan itu padamu
Setujukan bila ku sebut janji ?
Ah mungkin terlalu berat untukmu
Lalu harus disebut apa ?

Sebelum terlalu jauh ku bawa, akan kah ini adil untuk kita?
Mungkin iya bagimu, tapi tidak untukku
Atau mungkin kau sudah jauh melupakannya
jauh sebelum aku mengusik ini kembali
Atau masih kah kau seperti saat itu?
Ah maaf aku terlalu banyak bertanya..
Yah setidaknya aku masih bisa mengenangnya
mengenang perkataan kita saat itu
walaupun kamu tidak
mungkin juga mengenangmu

Kembali angin berhembus, mendesir pelan
mungkin ia tau harus berbuat apa
ya, seperti menyampaikan ceritaku ini
tapi tenang, dia tidak bermaksud mengganggumu
dia hanya menerbangkannya saja
membawa pergi cerita ini, jauh, tanpa arah

Ada rasa ingin untuk sesaat bertemu denganmu lagi
ingin mencarimu
Banyak yang ingin ku ceritakan
juga banyak yang ingin ku dengar darimu
Tapi itu membuatku terlalu egois
Jadi mungkin cukup lewat layar ini aja aku bercerita
Jangan khawatir, aku hanya ingin bercerita
Tenang, bukan tentang keburukanmu

Hampir memasuki waktu subuh
Namun aku masih melihat taburan bintang di langit
indah sekali kulihat
Tampaknya langit tidak mendung
Di kejauhan sana, mereka berkumpul, memancarkan cahayanya
Seperti menerangi satu sama lain
menjadikan titik titik cahaya itu seperti ada pesan yang ingin disampaikannya
Sejenak aku berpikir, tidak jauh beda dengan tulisan yang buat saat ini
hanya saja tidak tau bagaimana menyampaikannya
tidak seperti mereka yang menyampaikannya dengan cahaya mereka
Tidakkah kau berpikir begitu ?

Beberapa waktu lalu saat ku dengar kabar baikmu itu
Sontak saja aku cukup senang
Memang kau pantas menerimanya
Namun kau perlu tau
Aku cukup lama mengumpulkan keberanian untuk menghubungimu
sampai akhirnya kau memulai percakapan singkat itu
Walau hanya berdurasi beberapa detik
aku sudah sangat senang
dan kukira kau juga senang saat itu
ya tentunya dengan kondisimu saat itu
mungkinkah karena ku coba untuk menghubungimu?
Ah sudah, abaikan
Mungkin kau hanya sekedar berbagi kebahagiaanmu pada orang lain
ya, orang lain

Kini hanya bisa melihatmu secara diam-diam
Aku masih terlalu takut membuatmu terganggu
Aku hanya berharap, jika ada kabar baik lagi, segera beritahu aku
Aku akan menjadi bagian dari kebahagiaan itu
Walaupun sampai di-saat-itu
yang membuat kalimat itu sudah bukan menjadi apa apa lagi
Kau tidak perlu menghawatirkannya
Semua baik-baik saja


*seketika hujan turun sob :')*


Senin, 28 Oktober 2013

Ada Sebuah Waktu..

Ada sebuah waktu
saat semilir angin berhembus
menerbangkan debu dan dedaunan
melayang jauh

Ada sebuah waktu
menikmati hamparan pandangan
nyata terlihat

Ada sebuah waktu
keduanya menghanyutkanku
menetramkan jiwa

Ada sebuah waktu
lamunan membawaku terbang tinggi
jauh tak tentu arah
kemana dia dibawa angan

Ada sebuah waktu
lagi, melihat bayangan itu
sambut ikhlas memudarkan rasa lelah
bukan hanya itu

Ada sebuah waktu
ketika melangkah bersama
seperti saat itu, saat dunia tau
betapa gagah raga ini berdiri

Ada sebuah waktu
serasa waktu mengizinkannya
menembus jauh ruang memori
melekat kuat
menjadi nyata

Ada sebuah waktu
jalan yang ada, kerikil, cadas
bukan apa-apa
ya, dengannya
memang itu perawakannya

Ada sebuah waktu
melangkah lagi,
menapaki lagi,
terus, tiada, tanpa henti
lelah ? bukan, hanya sebuah asa

Ada sebuah waktu
kini sepenggal makna dibalik kisah
jauh didepan, cerita kan membawa

Ada sebuah waktu
tanpa menghiraukan derita
nyatanya, dilalui bersama
disini.. dan disana..

Ada sebuah waktu
tak tau arah
sejenak terdiam, hanya diam..
muncul tanya tanpa tahu

Ada sebuah waktu
menertawakan kebodohan bersama
melupakan sejenak yang lain
lepas.. tanpa beban

Ada sebuah waktu
angin, tinggi, jauh, indah
bukan itu intinya
tapi saat itu lah
akankah ada lagi ?

Ada sebuah waktu
bagian dari kita harus berlabuh
dikesunyian ruangnya
tak lama, namun tak kembali

Ada sebuah waktu
menjadi akhir saat itu
melangkah pasti, namun berat

dan..

Ada sebuah waktu
sampai waktu itu memanggil
menyatakan bahwa ini lah dia
ini lah kita
ini lah saatnya
dan ini lah hidup

Minggu, 20 Oktober 2013

Cara Rasulullah SAW Memuliakan Istrinya


Siapa tidak mendamba pasangan setia dan selalu mesra? Siapa pula tidak jengah hidup dengan pasangan yang durhaka lagi gampang marah? Faktanya, menjadi pasangan setia dan mesra sungguh tidak mudah.
 
Alangkah baik kita menjadikan rumah tangga Rasulullah sebagai teladan utama. Inilah potret rumah tangga yang diliput berkah dan bertabur cinta. Panutan umat sejagat ini adalah sosok suami yang pandai mengistimewakan istri.

Beliau biasa memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira, yang kemerah-merahan pipinya. Kadang juga Aisy, yang dalam budaya Arab, pemenggalan huruf terakhir dari nama itu menunjukan panggilan manja sebagai tanda sayang. Tidak ada wanita yang tidak tersanjung dipanggil demikian oleh suaminya.

Di tengah kesibukan mengurus umat, Rasulullah juga mampu menjaga keintiman bersama istri. Perhatikan penuturan Aisyah berikut. “Aku pernah mandi janabat bersama Rasulullah dengan satu tempat air. Tangan kami bergantian mengambil air.” (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau pernah makan daging yang sudah digigit Aisyah (HR Muslim).

Kemesraan bahkan tetap dilakukan Rasulullah ketika istri sedang dalam keadaan haid. Simak penuturan Ummu Salamah. “Ketika aku rebahan bersama Rasulullah di lantai, tiba-tiba aku haid. Aku keluar mengambil pakaian haidku. Beliau bertanya, ‘Mengapa kamu, apakah kamu haid?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu memanggilku, dan aku tidur bersama beliau di lantai yang rendah.”

Rasulullah memang begitu memuliakan istri. Boleh jadi sebagian suami lebih nyaman keluar rumah bersama rekan, meninggalkan istri di rumah. Perhatikan sikap Rasulullah, sebagaimana kesaksian Aisyah. “Ketika hendak melakukan sebuah perjalanan, Nabi biasa membuat undian di antara para istri beliau. Siapa yang namanya keluar undian, dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikian pula ketika beliau menyaksikan hiburan. Aisyah berkisah, “Pada suatu hari, orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi sendiri yang berkata padaku, apakah aku ingin melihatnya. Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata, ‘Teruskan permainan kalian, Wahai Bani Arfidah (julukan orang Habasyah)!’ Hingga ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau lalu berkata, ‘Kalau begitu, pergilah!’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Itulah sosok suami sejati. Kendati demikian, sebagai manusia normal, tentu saja rumah tangga Rasulullah tidak bebas dari konflik. Perselisihan dalam rumah tangga adalah bumbu cinta. Namun, ketika berselisih, Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”

Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni).

Semua kita pasti berharap memiliki rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah. Rasulullah telah mengajarkan suami bagaimana memuliakan istri. Seperti sabda beliau, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

[REPOST] [SHARED]
(Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, )

Dunia kecil gw [Late Post]

Yups.. mengisi kekosongan waktu untuk melanjutkan tulisan blog saya ini sambil menikmati angin sore akhir pekan di beranda kos-kosan..
Kali ini gw memikirkan suatu hal lingkungan disekitar, ya mungkin lebih tepatnya temen pergaulan gw..
Semenjak gw mengenal apa itu namanya teman, kawan, sahabat, entah kenapa pasti ada 1 ekor..eh 1 orang maksud gw yang lengket dan bener2 melekat dihati dan pikiran gw *aseek^^.. yah gitu emang keadaannya..
Sekilas dulu waktu masih TK tu yak, ada temen gw, udah hampir lupa juga sekarang, kalau ga salah namanya Wahyu, ya, dia temen sekelas gw juga.. Tu anak emang sohib gw yang paling bisa sob saat itu :) But, as i know, kami udah ga pernah jumpa lagi coy semenjak tamat dari TK, ga tau keberadaan doi dimana, gimana dia sekarang, apa masih hidup atau udah ngedeluanin kite kite hehee, semoga belom lah.. Yaah pokoknya lost contact lah..
Gitu juga pas gw masih bocah tu yak :D jaman jaman SMP.... trus sampe gw SMA juga tuh, ada sohib gw banget dah. Gw kasih manggil dia dgn sebutan "cumii" coy wkwkwk.. ehh rupanya doi gak mau kalah, dia malah manggil gw "oncom" hahaa.. Hal yg unik yg gw dan temen temen lainnya dapet dari dia, ya itu,, doi panikan sob hahahaa.. lucu kalau udah liat dia panik, rempong gimana gitu haha..
Nah.. sampe la akhirnya gw di bangku kuliahan ini coy.. semuanya berubah begitu drastis.. (kayak di pilem pilem aja yak :D )
Ga tau kenapa men, gw ngerasa, yaa.. semuanya biasa aja gitu, ya emang sih kata temen dan senioran gw emang begitu adanya diperkuliahan. Akhirnya gw coba lebih asik aja ngejalaninya.. Sampe gw mulai tau ngerti seluk beluk lingkungan dan temen2 gw disini.. Dari sini juga gw mulai ngerti rokok sob, tapi ga candu ya coy, sekedar ngenak feel nya aja.. Buat lo yg udah ngenal tu rokok, gw saranin dah jangan candu lo men, sayangi masa muda lo, dan buat lo yang belum terlanjur ngenal, mending ga usa dah, lo jauhin tu yg namanya rokok, karna sikit banyaknya gw udah kena efeknya sob..
Seiring waktu berjalan gw bergaul disini, ternyata ga parah parah abis temen2 gw, asik juga kok sob :)
Awalnya yg sok jaim, yaa kadang menurut gw rada songong gitu,, tapi kita bisa akrab kok, yg penting bisa jaga privasi masing masing aja..
Dan asal lo tau aja sob, gw udah mengenal dekat temen2 dan senior2 gw disini mulai dari yang paling alim sampai yang paling bejat/rusak sekalipun gw uda ngenal mereka semua sob.. Bertolak belakang emang pemikiran dan kepribadiannya, tapi dengan itu, gw jadi bisa melihat dan mengambil pelajaran dan pengalaman dari mereka. Yah asal lo pintar jaga diri aja coy, lo harus tau batasannya, sejauh mana yang cukup lo ikutin, jangan sampai lo salah melangkah sob..

Oke, sekian dulu tulisan gw hari ini, hari udah mulai gelap sob, saatnya beranjak ke mesjid :)

Jumat, 18 Oktober 2013

Transisi ku [Late_Post]

Pertama dari yang pertama, saya anak pertama dari 2 bersaudara
*apasih, gak penting banget :D

Gak banyak waktu gw buat ngisi dan meramaikan isi blog gw ini. Yeah.. you know lah ya anak kuliahan itu gimana, plus gw juga anak kosan sob :) Domisili sementara di kawasan bandung, tepatnya Kabupaten Bandung..
Untuk pertama kalinya ini merantau, dan emang udah tekad (bukan 'nekad' coy) gw sejak lama, sejak awal SMA sih tepatnya untuk melanjutkan status pendidikan gw, bukan cuma sekedar status cuy, ceilah haha *apasih X_X.. oke gw lanjut... untuk melanjutkan pendidikan gw di tanah jawa. Niatan pertama itu gw pengen ngelanjut ke kota santri. Tau tak ? Yup, Jogja sob.. gw pengen melamar diri ini kesono.. (emang lo pikir gw cowok apaan :3 ) yah pengen ngambil Indutri-nya UGM sob, tapi Allah SWT berkehendak lain, apalah daya saya :D
Tapi sebelum gw dinyatakan lose in the battle of that *ceilah.. gw udah dinyatakan win in the fight of UTG2 SMBB Telkom sob.. hehe.. jadi ga terlalu galau gimanaa gitu hhe..
Nah jadi lah gw take it, and now gw capcus tuh kampus.
Sampai saat gw ngepost tulisan ini, udah tahun kedua gw ngampus dimari sob.
Oke, sekilas lo udah tau transisi kehidupan, maksud gw transisi pendidikan gw yak..
Alhamdulillah.. meskipun gw harus dan sangat harus banting setir di tahun pertama gw, tapi gw bersyukur bisa bertahan disini sob :) Ternyata gak mudah, gak segampang yang gw pikirkan dulu, bahwa hidup sendiri serta merta mandiri di perantauan itu enak dan gampang.. Salah lo coy, yaa beda sih kalo lo udah terbiasa..
Tapi yaa gw jalanin aja dengan ikhlas sob, walaupun 'sedikit' menderita hahaa..
Dan sejak saat itu lah gw menyalakan mesin kehidupan gw disini, di Bandung, di tanah yang mendidik gw secara keras, yang gw harapkan setelah gw dari sini bisa kembali ke kampung halaman dengan membawa 'oleh-oleh yang manis' :)
Bismillah yah sob...

Kamis, 17 Oktober 2013

?

Apakah langkah ini benar ?
Apakah ini lah jalan yang tepat ?
Akankah baik-baik saja ?
Akankah ku sanggup ?

Ya, beberapa pertanyaan itu lah yang pernah memutari pikiranku hingga sering ku terjaga

#tobe continued..